Rektor UIN SUNA Lhokseumawe Hadiri Taklimat Presiden, Soroti Peran Strategis Perguruan Tinggi
www.uinsuna.ac.id - Taklimat Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang diikuti Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag, menjadi momentum penegasan peran strategis perguruan tinggi dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Kegiatan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (15/01/25), dihadiri oleh para rektor perguruan tinggi keagamaan dan umum dari seluruh Indonesia.
Selama kurang lebih tiga jam, Presiden Prabowo menyampaikan gambaran perubahan besar dalam tatanan hubungan internasional yang berdampak langsung pada arah pembangunan nasional. Presiden menekankan bahwa dunia saat ini bergerak dalam lanskap geopolitik yang semakin pragmatis dan kompetitif, sehingga menuntut kecerdasan strategis dari setiap bangsa.
Dalam arahannya, Presiden mengungkapkan bahwa banyak negara tidak lagi berpegang pada ideologi tertentu, melainkan mengedepankan pendekatan realistis demi menjaga kepentingan nasional, terutama di sektor keamanan dan ekonomi. Negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, disebut Presiden telah mengoptimalkan seluruh instrumen kekuatan nasional untuk mempertahankan dan memperluas pengaruh globalnya.
Presiden juga menyoroti bagaimana penguasaan sumber daya alam menjadi faktor kunci dalam percaturan global. Ia mencontohkan dinamika pengelolaan minyak di kawasan Amerika Latin sebagai bukti bahwa sumber daya strategis tidak dapat dilepaskan dari kontestasi kepentingan internasional.
Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar sebagai pusat produksi pengetahuan dan kebijakan strategis bangsa. Ia mengingatkan agar kalangan akademisi tidak terjebak pada rutinitas akademik semata tanpa memahami perubahan global yang sedang berlangsung.
“Jangan asyik mengajar dan meneliti, tetapi tidak mempertimbangkan konteks dan peta geopolitik global,” tegas Presiden di hadapan para rektor, guru besar, dan cendekiawan.
Lebih lanjut, Presiden menekankan pentingnya memposisikan Indonesia sebagai brain country, yakni bangsa yang unggul dalam kecerdasan, pemikiran strategis, dan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kekuatan bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi oleh kemampuan manusia dalam mengelola dan mempertahankannya.
Ia menambahkan bahwa kecerdasan nasional harus dibangun melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta tata kelola yang berdaulat dan berkelanjutan. Dalam kerangka inilah, perguruan tinggi dipandang sebagai aktor utama dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu menjaga kedaulatan bangsa di tengah persaingan global.
Presiden Prabowo juga mengangkat pelajaran sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kemakmuran Belanda pada masa lalu tidak terlepas dari eksploitasi sumber daya alam Indonesia. Namun, setelah Indonesia merdeka dan tidak lagi menjadi sumber eksploitasi, posisi Belanda di tingkat global mengalami penurunan signifikan. Hal tersebut, menurut Presiden, menjadi bukti besarnya pengaruh sumber daya Indonesia terhadap kemajuan bangsa lain.
Oleh karena itu, Presiden menegaskan bahwa penguasaan dan pengelolaan sumber daya nasional harus sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia. Perguruan tinggi diharapkan berperan aktif dalam membangun kesadaran intelektual, memperkuat riset strategis, serta melahirkan gagasan dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan nasional.
Di penghujung taklimat, Presiden Prabowo mengajak kalangan akademisi untuk turut berperan dalam memperbaiki tata kelola negara dengan menutup “lobang-lobang bocor” yang merugikan bangsa. Ia mengungkapkan bahwa dalam satu tahun pemerintahan, upaya efisiensi tersebut telah menghasilkan penghematan anggaran sekitar Rp190 triliun yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan gedung sekolah, dan berbagai program strategis lainnya.
Presiden juga menegaskan bahwa sektor pendidikan tinggi akan menjadi salah satu pihak yang memperoleh manfaat dari hasil efisiensi tersebut. Menutup arahannya, Presiden mengutip pernyataan Albert Einstein "Suatu kebodohan jika kita terus mengulang kesalahan yang sama tapi berharap hasil yg berbeda".
Taklimat ini menjadi pengingat kuat bagi dunia kampus, termasuk UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, untuk terus memperkuat perannya sebagai pusat kecerdasan bangsa yang responsif terhadap tantangan global dan berpihak pada kepentingan nasional. (AM)