Dihadapan Ratusan Peserta Seminar, Prof. Danial Tekankan AI Bukan Pengganti Pendidik
www.uinsuna.ac.id – Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., menegaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir dan kreativitas manusia.
Penegasan tersebut disampaikan Prof. Danial saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional Pendidikan bertema “Transformasi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence): Membangun Kompetensi Pendidik yang Inovatif, Berkarakter, dan Berdaya Saing Global” yang diselenggarakan Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dalam rangka Milad ke-57 UIN SUNA, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid, yakni luring di Aula Gedung Pascasarjana dan daring melalui platform digital, tersebut diikuti oleh dosen, mahasiswa, guru, peneliti, serta sivitas akademika dari berbagai daerah. Pelaksanaan hybrid memungkinkan seminar menjangkau peserta yang lebih luas sekaligus memperkuat diseminasi gagasan mengenai transformasi pendidikan di era digital.
Dalam paparannya, Prof. Danial mengingatkan bahwa teknologi pada hakikatnya hanyalah instrumen yang diciptakan manusia untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan dan tantangan kehidupan.
“Teknologi tidak bisa mencerdaskan orang. Teknologi hanyalah mesin. Artificial Intelligence juga hanyalah mesin yang diciptakan untuk membantu manusia,” ujar Prof. Danial.
Menurutnya, pemanfaatan AI harus ditempatkan secara proporsional agar tidak menimbulkan ketergantungan yang berlebihan. Kehadiran teknologi seharusnya menjadi sarana untuk menutupi keterbatasan manusia, bukan melemahkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya inovasi.
“AI digunakan untuk menutupi kekurangan kita, bukan untuk melumpuhkan kemampuan kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Danial menyoroti peran sentral pendidik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Ia menjelaskan bahwa AI mampu menyediakan informasi dengan cepat dan instan, namun tidak memiliki kemampuan untuk membentuk karakter, memberikan keteladanan, serta menumbuhkan intuisi dan kebijaksanaan peserta didik.
“Teknologi hanya bisa memberikan informasi instan. Sedangkan pendidik memberikan pengalaman, pengayaan, melatih intuisi, dan keteladanan. Hal-hal inilah yang tidak dimiliki oleh AI,” jelasnya.
Menurut Prof. Danial, masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kemampuan pendidik dalam memadukan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan karakter.
Seminar nasional tersebut turut menghadirkan Guru Besar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag., yang membahas peluang dan tantangan pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan. Melalui forum ilmiah ini, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu menjaga nilai-nilai moral dan kemanusiaan sebagai fondasi utama pendidikan.
Kegiatan seminar yang diselenggarakan secara hybrid tersebut menjadi salah satu agenda strategis Milad ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dalam memperkuat budaya akademik serta menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global di era kecerdasan buatan. (AM)