PBAK UIN SUNA Lhokseumawe 2026, Rektor : “Milikilah Sesuatu yang Tak Bisa Dibeli”
www.uinsuna.ac.id - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., mengajak 970 mahasiswa baru untuk membangun pola pikir kritis, rendah hati, serta mampu mengambil pelajaran dari perilaku alam semesta dalam menjalani kehidupan akademik maupun sosial.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Danial saat memberikan sambutan pada kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Tahun Akademik 2026 di Gedung Serbaguna kampus setempat, Selasa (1/9/2026).
Di hadapan mahasiswa baru, Prof. Danial menekankan pentingnya memiliki kemampuan berpikir kritis sebagai salah satu modal utama dalam menjalani pendidikan tinggi.
“Milikilah sesuatu yang tak bisa dibeli karena itu sangat mahal harganya. Critical thinking, berpikir kritis, bukan berpikir krisis,” ujar Danial.
Menurut dia, berpikir kritis berarti kemampuan melihat persoalan berdasarkan data dan argumentasi. Sementara berpikir krisis lebih banyak didorong oleh sentimen sehingga berpotensi membuat seseorang keliru dalam mengambil keputusan.
“Berpikir kritis itu berbasis data dan argumentasi, sedangkan berpikir krisis berbasis sentimen,” katanya.
Selain kemampuan berpikir kritis, Prof. Danial mengajak mahasiswa baru memaknai perilaku alam sebagai filosofi kehidupan. Menurutnya, alam semesta menyimpan banyak pelajaran yang dapat menjadi bekal untuk membangun karakter dan meraih kebahagiaan dunia serta akhirat.
Ia mengawali dengan filosofi air. Menurut Danial, air memiliki karakter yang tidak mudah dilukai dan selalu mengalir mencari tempat yang lebih rendah.
“Menjadi air artinya menjadi pribadi yang tidak mudah terluka ketika orang lain mencoba menyakiti. Air juga selalu mencari tempat terendah. Ini mengajarkan kita untuk rendah hati dan tawadhu,” ujarnya.
Menurut dia, kerendahan hati bukanlah kelemahan. Sebaliknya, sikap tersebut dapat menjadi kekuatan untuk menjaga ketenangan sekaligus memberikan energi positif bagi orang-orang di sekitarnya.
Filosofi berikutnya adalah tanah. Tanah, kata Danial, menjadi tempat berbagai hal yang tidak diinginkan manusia, termasuk bangkai dan kotoran. Namun, tanah tidak pernah membalas perlakuan tersebut dengan dendam.
“Tanah tidak pernah membalas dendam. Justru tanah menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan yang memberikan manfaat bagi manusia,” katanya.
Dari filosofi tersebut, ia mengajak mahasiswa untuk membalas keburukan dengan kebaikan.
“Jadilah tanah. Artinya, ketika mendapatkan keburukan, balaslah dengan kebaikan,” ujar Danial.
Ia kemudian mengibaratkan angin sebagai sikap yang mampu menyejukkan suasana. Menurutnya, mahasiswa harus mampu hadir sebagai pribadi yang memberikan ketenangan di tengah lingkungan sosial.
“Jadilah angin yang mendinginkan suasana. Jika pun harus menjadi api, jadilah api yang bermanfaat, seperti api yang digunakan untuk memanaskan wajan dan memasak makanan bagi manusia,” tuturnya.
Sementara itu, filosofi samudra dimaknai Prof. Danial sebagai gambaran keluasan dan kedalaman ilmu. Mahasiswa, kata dia, tidak cukup hanya memiliki wawasan yang luas secara horizontal, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam secara vertikal.
“Samudra itu luas dan dalam. Begitu juga ilmu yang harus kita selami. Jangan hanya luas secara horizontal dalam keilmuan, tetapi juga harus dalam secara vertikal dalam pemahaman,” katanya.
Filosofi samudra juga mengajarkan tentang keluasan hati. Samudra menerima berbagai hal yang dilemparkan kepadanya, baik besar maupun kecil, tanpa kehilangan ketenangannya.
“Menjadi samudra artinya menjadi orang yang siap menerima apa pun yang dilemparkan orang lain, besar maupun kecil, dengan hati yang tenang. Sebab, pada akhirnya semuanya akan berakhir di pesisir,” ujar Danial.
PBAK Tanpa Kekerasan
Wakil Rektor III UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr. Darmadi, M.Si., selaku Ketua Panitia PBAK, mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 1-3 September 2026.
Menurut Darmadi, PBAK menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan perguruan tinggi, budaya akademik, organisasi kemahasiswaan, serta nilai-nilai yang harus dijunjung selama menempuh pendidikan.
“PBAK ini berfokus pada pembekalan awal melalui pengenalan budaya akademik kampus, keorganisasian mahasiswa, dan nilai-nilai yang harus dijunjung oleh setiap mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi,” kata Darmadi.
Selain pengenalan kehidupan akademik dan kemahasiswaan, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan sejumlah program prioritas Kementerian Agama, di antaranya ekoteologi, Kurikulum Cinta, dan Kemenag Berdampak.
Darmadi menegaskan bahwa pelaksanaan PBAK UIN SUNA mengedepankan prinsip pendidikan yang aman, humanis, dan bebas dari kekerasan.
“PBAK ini dilakukan tanpa kekerasan, anti-bullying. Cintailah adik-adik ini seperti adik kita sendiri,” tegas Darmadi. (AM)