Prof. Danial Ungkap "Matematika Kebakhilan", Ajak Masyarakat Bangun Peradaban Ziswaf
www.uinsuna.ac.id - Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., menyambut kedatangan Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh (BMA) Tgk. Muhammad Yunus M. Yusuf, SH, beserta jajaran dalam kegiatan kerja sama, sosialisasi, dan edukasi peningkatan kesadaran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ziswaf) yang berlangsung di Aula Biro Rektorat UIN SUNA Lhokseumawe, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan Baitul Mal Aceh dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya sivitas akademika, mengenai pentingnya budaya berzakat, berinfaq, bersedekah, dan berwakaf sebagai instrumen pembangunan ekonomi umat.
Dalam sambutannya, Prof. Danial mengajak seluruh peserta untuk menumbuhkan kecintaan terhadap praktik ziswaf. Menurutnya, kekuatan ekonomi umat tidak hanya ditentukan oleh besarnya harta yang dimiliki, tetapi juga oleh kesadaran untuk berbagi secara konsisten.
Ia kemudian memperkenalkan konsep yang disebutnya sebagai matematika kebakhilan, yakni kecenderungan seseorang yang semakin sulit mengeluarkan sebagian hartanya ketika jumlah kekayaannya semakin besar.
"Saat kita hanya memiliki uang seratus ribu rupiah, kita mampu bersedekah dua puluh lima ribu rupiah atau sekitar 25 persen dari total harta yang dimiliki. Namun ketika harta kita bertambah, persentase sedekah itu justru semakin kecil. Inilah yang saya sebut sebagai matematika kebakhilan," ujar Prof. Danial.
Menurutnya, persoalan tersebut muncul karena banyak orang belum benar-benar merasakan keberkahan yang lahir dari sedekah. Akibatnya, semangat untuk berbagi semakin berkurang seiring meningkatnya kemampuan ekonomi.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun budaya gemar bersedekah dan berzakat sejak dini. Menurutnya, apabila kesadaran berziswaf tumbuh dalam setiap lapisan masyarakat, maka hal tersebut akan menjadi fondasi kuat bagi pembangunan ekonomi umat Islam.
Prof. Danial juga menyinggung hasil penelitian ekonom Islam Prof. Dr. Monzer Kahf mengenai praktik wakaf yang diadopsi oleh sejumlah negara maju.
"Dua negara nonmuslim, Amerika dan Inggris, berhasil mengadopsi sistem wakaf dari Islam. Hasilnya, sekitar 60 persen fasilitas publiknya dibangun melalui dana wakaf," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai Aceh memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis wakaf. Hampir setiap desa di Aceh, katanya, memiliki aset tanah wakaf yang apabila dikelola secara profesional akan memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.
"Ini merupakan kelebihan sekaligus potensi besar yang harus kita optimalkan. Dengan tata kelola yang baik, ziswaf dapat menjadi salah satu pilar baru dalam membangun kemandirian ekonomi umat," tutup Prof. Danial.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Malikussaleh, Wakil Direktur Politeknik Negeri Lhokseumawe, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Kepala Bagian Pengumpulan Baitul Mal Aceh, Kepala Subbagian Sosial dan Advokasi Baitul Mal Aceh, serta tenaga profesional Baitul Mal Aceh, Prof. Armiadi Musa, M.A., yang hadir sebagai narasumber sosialisasi. (AM)