Jakarta Understanding 2026: UIN Sultanah Nahrasiyah Dorong Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam untuk Perdamaian Dunia
Lhokseumawe - Pesan perdamaian global yang tertuang di Jakarta Pemahaman tentang Kerukunan Masjid, Diplomasi Keagamaan, dan Perdamaian Global menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi Islam untuk memperkuat peran dalam membangun masyarakat yang moderat, toleran, berkeadilan, dan berorientasi pada perdamaian.
Dokumen yang lahir dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta pada 27 September 2026 tersebut menegaskan bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama. Masjid tidak hanya ditempatkan sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang dialog, jembatan keberagaman, serta sarana memperkuat diplomasi keagamaan.
Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Prof.Dr.Danial,M.Ag., menyambut baik semangat tersebut. Menurutnya, Jakarta Pemahaman sejalan dengan tanggung jawab perguruan tinggi Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus membentuk karakter dan kepedulian sosial.
“Agama harus menjadi kekuatan yang menghadirkan kedamaian, kemanusiaan dan persaudaraan. UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan secara intelektual sekaligus membentuk karakter dan kepedulian sosial,” ujar Prof. Danial.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa perlu dipersiapkan menjadi generasi yang mampu menjadi jembatan di tengah perbedaan, dengan penguatan literasi agama, literasi digital, wawasan global, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Pemahaman Semangat Jakarta dapat diterjemahkan melalui tridarma perguruan tinggi. Dalam pendidikan, perdamaian dan moderasi dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran. Dalam penelitian, isu diplomasi keagamaan, moderasi beragama, konflik sosial, keadilan, ekoteologi, dan perdamaian global dapat dikembangkan sebagai studi akademik. Sementara dalam pengabdiannya, kampus dapat memperkuat masyarakat dan lembaga keagamaan sebagai agen perdamaian.
Prof Danial juga menilai Aceh memiliki pengalaman sosial yang penting untuk dikaji sebagai bagian dari pembelajaran perdamaian. “Pengalaman Aceh perlu dikaji secara akademis dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan perdamaian di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Selain perdamaian, Jakarta Memahami pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, dialog lintas iman, penolakan ekstremisme dan kekerasan, serta penguatan literasi digital untuk menghadapi hoaks dan kebencian.
Prof. Danial berharap deklarasi tersebut tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi antara perguruan tinggi, masjid, pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil.
“Yang paling penting adalah bagaimana pesan ini diterjemahkan menjadi tindakan. UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe siap terus memperkuat pendidikan Islam yang moderat, pengembangan ilmu pengetahuan, dialog kemanusiaan dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi kampus untuk perdamaian,” tegasnya.
Bagi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Jakarta Pemahaman menjadi pengingat bahwa kampus Islam tidak hanya berperan sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang dialog, pembentukan karakter, dan pengembangan gagasan yang menjadikan agama sebagai sumber perdamaian, keadilan, dan kemaslahatan bagi umat manusia.