Prof. Danial: Ekoteologi, Memahami Bumi Merawat Semesta

www.uinsuna.ac.id - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., menegaskan bahwa pembangunan peradaban Islam masa depan harus berlandaskan paradigma ekoteologi, yakni kesadaran untuk memahami bumi dan merawat semesta. Gagasan tersebut disampaikan saat mengikuti Festival Muharram 1448 Hijriah dan Seminar Nasional Rekonstruksi Peradaban Islam dalam Rangka Membangun Dunia Baru di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, 14–15 Juli 2026.

Forum ilmiah nasional tersebut mempertemukan pimpinan dan guru besar dari 51 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk membahas arah pembangunan peradaban Islam dalam menjawab berbagai tantangan global melalui pendidikan, riset, inovasi, dan kolaborasi antarperguruan tinggi.

Menanggapi pidato kunci Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A. bertajuk Islam dan Transformasi Peradaban Dunia, Prof. Danial menilai bahwa transformasi peradaban tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, perubahan tersebut harus dimulai dari kesadaran manusia dalam memperlakukan alam sebagai amanah yang wajib dijaga.

"Transformasi peradaban harus dimulai dengan memaknai ekoteologi secara utuh, yaitu Memahami Bumi, Merawat Semesta. Manusia bukan sekadar memanfaatkan alam, tetapi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di dalamnya," tegas Prof. Danial.

Ia menekankan bahwa bumi memiliki kapasitas yang terbatas sehingga eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan hanya akan mempercepat krisis lingkungan dan mengancam keberlangsungan hidup manusia.

"Kapasitas bumi itu terbatas sehingga tidak boleh dieksploitasi secara rakus dan dibiarkan tanpa pengelolaan. Memanfaatkan potensi, energi, dan kekayaan alam secara proporsional serta profesional merupakan wujud nyata melestarikan alam semesta," ujarnya.

Menurut Prof. Danial, pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologi pada akhirnya akan membawa manusia pada ancaman krisis yang lebih besar. Oleh sebab itu, nilai-nilai keagamaan harus menjadi fondasi dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.

"Ketika dunia bergerak menuju ancaman kepunahan alam, maka pelestarian kehidupan menjadi sebuah keniscayaan. Kehidupan alam adalah kunci keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan manusia. Karena itu, menjaga bumi sesungguhnya adalah menjaga masa depan peradaban," katanya.

Seminar Nasional tersebut menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia sebagai keynote speaker dan menjadi ruang diskusi bagi para akademisi untuk merumuskan rekomendasi strategis mengenai kontribusi PTKIN dalam membangun peradaban Islam yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing di tingkat global.

Selain mengikuti seminar, para peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Istana Presiden sebagai bagian dari rangkaian Festival Muharram 1448 Hijriah.

Keikutsertaan Prof. Danial dalam forum nasional tersebut menjadi bagian dari komitmen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe untuk terus memperkuat jejaring akademik sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan keislaman yang relevan terhadap isu-isu strategis dunia. Melalui konsep "Ekoteologi: Memahami Bumi, Merawat Semesta", Prof. Danial menegaskan bahwa masa depan peradaban Islam tidak hanya diukur dari kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga dari keberhasilan umat manusia menjaga keseimbangan antara pembangunan, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan. (AM)

Share this Post